Alam Barzakh, Alam yang Begitu Asing – KonsultasiSyariah.com


Oleh:

Nasher bin Haza Al-Muajil

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah berfirman dalam hadis qudsi yang shahih: 

ومَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدي عَن نَفْسِ المُؤْمِن، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنَا أكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Tidaklah Aku pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa orang beriman, dia membenci kematian sedangkan Aku membenci hal buruk terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada penutup para nabi, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang beliau:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (QS. Az-Zumar: 30).

Amma ba’du:

Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala!

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengaruniakan kepada kita agama yang sempurna dan menyeluruh ini, yang setiap kali kamu mendalami suatu pertanyaan, pasti kamu mendapati agama ini punya jawabannya yang masuk akal, mudah diterima, dan adil. Kamu juga akan memahami bahwa orang yang terhalang dari agama ini terjerumus ke dalam banyak pertanyaan, tapi meninggal dunia dan tetap tanpa mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di antaranya adalah pertanyaan yang sering kali bergelayut di pikiran kita, yaitu tentang alam barzakh. 

Di antara orang-orang yang terhalang dari cahaya agama ini mengatakan:

جِئْتُ لا أَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ وَلَكِنِّي أَتَيْتُ

Aku datang (ke dunia ini) tanpa tahu dari mana, tapi intinya aku ada.

وَلَقَدْ أَبْصَرْتُ قُدَّامِي طَرِيقًا فَمَشَيْتُ

Aku melihat di depanku ada jalan, maka aku menempuhnya.

وَسَأَبْقَى سَائِرًا إِنْ شِئْتُ هَذَا أَوْ أَبَيْتُ

Aku akan terus berjalan maju, mau tidak mau.

كَيْفَ جِئْتُ كَيْفَ أَبْصَرْتُ طَرِيقِي؟! لستُ أدري

Bagaimana aku ada, dan bagaimana aku melihat jalanku?! Aku tidak tahu!

(Qasidah Ath-Thalasim, karya Eliya Abu Madhi).

Demikian juga yang ditanyakan oleh banyak filsuf besar yang meninggal dunia dan masih menyisakan pertanyaan ini tanpa jawaban, “Mengapa kita diciptakan? Lalu ke mana kita akan pergi?” (Kitab Pertanyaan-Pertanyaan Plato).

Mereka tidak memahami hakikat terbesar, bahwa kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita akan ditanya tentang amalan-amalan kita, dan kita punya tujuan yang abadi, yaitu surga dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak diragukan bahwa akan ada keadilan yang menjadi pondasi langit dan bumi, karena jika tidak, bagaimana dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang zalim dan kejam tidak mendapat balasan setelah sebagian dari mereka mati di atas dipan-dipan mewah! Pasti ada kelanjutan dari kehidupan ini. Meskipun ada tabir yang menutupi salah satu bagian kehidupan, akal sehat tetap membisikkan, “Jangan pergi, karena ada potongan-potongan lain dari kehidupan ini. Sangat tidak masuk akal jika cerita ini hanya berhenti di sini, di dunia ini.”

Terdapat tiga alam – sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi Rahimahullah, yaitu alam dunia, alam barzakh, dan alam keabadian. (Kitab Aqidah Ath-Thahawiyah). Sedangkan Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan satu lagi alam, yaitu alam permulaan (sebelum alam dunia). (Kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30).

Di sini kita akan membahas tentang alam barzakh yang merupakan alam gaib. Dan manhaj kita – sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah – adalah tidak memberi hukum pada perkara-perkara gaib dengan akal, pendapat, perasaan, mimpi, dan bisikan-bisikan suara, tapi manhaj kita adalah perkara-perkara gaib mengikuti hukum yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pengertian barzakh

Secara bahasa, kata barzakh berarti pembatas antara dua hal yang mencegah keduanya tercampur. Adapun secara istilah syariat, barzakh berarti alam di antara alam dunia dan akhirat, sebelum Hari Kebangkitan, yang dimulai dari waktu kematian hingga Hari Kebangkitan, sehingga siapa yang telah meninggal dunia, maka dia telah memasuki alam barzakh.

Dalam Al-Qur’an Al-Karim, kata “Barzakh” disebutkan dengan maknanya dari sisi bahasa, seperti dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

“Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20).

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

“Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar serta segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqan: 53).

Disebutkan juga dengan maknanya secara syariat, seperti yang ada dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إنَّ القَبْرَ أوَّلُ مَنازِلِ الآخِرَة، فإنْ نَجَا مِنْهُ فما بَعْدَهُ أيْسَرُ مِنْهُ، وإنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فما بَعْدَهُ أشَدُّ مِنْه

“Alam kubur merupakan tempat perhentian akhirat yang pertama, apabila seseorang selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih mudah, dan apabila seseorang tidak selamat darinya, maka tahap setelahnya akan lebih berat.” 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

ما رَأيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا والقَبْرُ أفْظَعُ مِنْه

“Aku tidak pernah melihat pemandangan apapun melainkan alam kubur lebih menakutkan darinya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadis ini hasan gharib).

Diriwayatkan juga dari Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa mereka berkumpul?’ Lalu ada yang menjawab, ‘Mereka sedang berkumpul untuk menggali liang kubur.’ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bergegas berjalan di depan para sahabat hingga sampai di kuburan itu, lalu beliau berlutut di atasnya.

Akupun mengambil posisi di hadapan beliau untuk melihat apa yang beliau lakukan. Ternyata beliau menangis hingga tanah menjadi basah oleh air mata beliau. Kemudian beliau menghadap kepada kami dan bersabda, ‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini, hendaklah kalian menyiapkannya!’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Keadaan orang Islam dan orang kafir di alam Barzakh

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إنَّمَا نَسمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهُ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ

“Sesungguhnya jiwa orang beriman menjadi burung yang makan di pepohonan surga, hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangkitkannya.” (HR. Ahmad, Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Ibnu Katsir mengatakan, “Hadis ini mengandung isyarat bagi setiap mukmin bahwa rohnya akan berada di surga, bebas terbang di sana dan makan dari buah-buahannya, dapat menyaksikan segala keindahan dan kebahagiaan di dalamnya, dan melihat karunia yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah siapkan baginya.” Ruh orang-orang beriman di alam barzakh tidak disebutkan kecuali dalam hadis tersebut dan hadis tentang ruh orang-orang yang mati syahid akan berada di tembolok-tembolok burung, yaitu hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

أَرْواحُهُمْ في جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالعَرْشِ تَسْرَحُ مِنَ الجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ َ تَأْوِي إِلي تِلْكَ القَنَادِيلِ

“Arwah mereka di perut burung hijau, di pelita-pelita yang tergantung di Arsy, mereka bebas terbang di surga sesuka hati mereka. Lalu mereka bernaung di pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim).

Sedangkan keadaan ruh orang kafir di alam Barzakh sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam Barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan) ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!’” (QS. Ghafir: 46).

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

العَبْدُ إذَا وُضِعَ في قَبْرِهِ، وتُوُلِّي وذَهَبَ أصْحَابُهُ حَتَّى إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالهِم، أتَاهُ مَلَكانِ فأقْعَدَاهُ فيَقُولانِ لهُ: ما كُنْتَ تَقُولُ في هَذا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلَّى الله عليْه وسلَّم؟ فيَقُولُ: أشْهَدُ أنَّهُ عَبْد اللَّه ورَسُولُه، فيُقَالُ: انْظُرْ إلى مَقْعَدِك مِن النَّارِ، أبْدَلَكَ اللَّهُ بِه مَقْعَدًا مِن الجَنَّة قالَ النَّبِيُّ صلَّى الله عليْه وسلَّم: فيَرَاهُمَا جَمِيعًا، وأمَّا الكَافِرُ – أوِ المُنَافِقُ – فيَقُول: لا أدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فيُقَالُ: لا دَرَيْتَ ولا تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بمِطْرَقَةٍ مِن حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْهِ، فيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا منْ يلِيه إلَّا الثَّقَلَيْنِ

“Apabila seorang hamba sudah diletakkan di kuburnya, sedangkan para pengantarnya sudah pergi – dan ia pasti mendengar suara derap sandal-sandal mereka – maka dua malaikat datang kepadanya. Dua malaikat itu mendudukkan orang tersebut seraya bertanya, ‘Apa yang dulu kamu katakan tentang orang ini?’ Yakni tentang Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Orang itu lalu menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah’.  Maka dikatakanlah kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu yang dari neraka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah gantikan untukmu dengan tempat duduk dari surga’.”

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu menambahkan, “Orang itu melihat kedua tempat duduk itu. Sedangkan orang kafir – atau orang munafik – akan menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu sudah tidak mengetahui (kebenaran) tapi tidak juga membaca (Al-Qur’an).’ Kemudian dia dipukul dengan palu-palu yang terbuat dari besi, maka dia berteriak dengan teriakan yang kuat  terdengar oleh mahluk-mahluk yang ada di sekelilingnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhari).

وعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنْهما عَنِ النَّبِيِّ صلَّى الله عليْه وسلَّم أنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبانِ فقَالَ: ((إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة))، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: ((لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا))[متفق عليه].

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah berlalu melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian beliau bersabda:

إنَّهُما لَيُعَذَّبانِ، وما يُعَذَّبانِ في كَبِيرٍ، أمَّا أحَدُهُما فكَانَ لا يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وأَمَّا الآخَرُ فكَانَ يَمْشِي بالنَّمِيمَة، ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّها بنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ في كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذا؟ فقَال: لعَلَّهُ أنْ يُخَفَّفَ عَنْهُما مَا لَم يَيْبَسا

“Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena sesuatu yang (dianggap) besar. Adapun salah satunya, maka dia dulu tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan satunya lagi dulu suka menebar namimah (menyebarkan ucapan orang lain untuk tujuan buruk).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua, setiap belahan itu beliau tancapkan di setiap kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Semoga siksaannya diringankan dari mereka berdua selama pelepah itu belum kering.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Apakah amalan akan terputus di alam Barzakh?

Di antara nasihat dan wasiat yang sudah biasa kita dengar sejak kecil saat bertakziah adalah ucapan kepada keluarga mayit: Tangisan tidak lagi berguna bagi almarhum, dan bahkan bisa mendatangkan mudharat baginya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِنَّ المَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكاءِ الحَيِّ – أو بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya mayit akan diazab karena tangisan orang yang masih hidup – atau tangisan keluarganya atas kematiannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Lalu orang yang bertakziah itu menambahkan: Jika kalian ingin memberi manfaat bagi almarhum, maka doakanlah dia dan bersedekahlah atas namanya, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

إذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُه إلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: إلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala!

Ada syair yang berbunyi:

مَثِّلْ لِنَفْسِكَ أَيُّهَا المَغْرُورُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَمُورُ

Wahai orang yang terbuai, bayangkanlah dirimu. Berada di Hari Kiamat, ketika langit berguncang sekeras-kerasnya.

إِذْ كُوِّرَتْ شَمْسُ النَّهَارِ وَأُدْنِيَتْ حَتَّى عَلَى رَأْسِ العِبَادِ تَسِيرُ

Saat matahari digulung dan didekatkan. Di atas kepala para makhluk sambil berjalan.

وَإِذَا النُّجُومُ تَسَاقَطَتْ وَتَنَاثَرَتْ وَتَبَدَّلَتْ بَعْدَ الضِّيَاءِ كُدُورُ

Saat bintang-bintang berjatuhan dan berguguran. Cahayanya berubah menjadi kegelapan.

وَإِذَا البِحَارُ تَفَجَّرَتْ مِنْ خَوْفِهَا وَرَأَيْتَهَا مِثْلَ الجَحِيمِ تَفُورُ

Saat lautan meluap karena rasa takutnya. Dan kamu melihatnya seperti api yang berkobar.

وَإِذَا الجِبَالُ تَقَلَّعَتْ بِأُصُولِهَا فَرَأَيْتَهَا مِثْلَ السَّحَابِ تَسِيرُ

Saat pegunungan tercabut dari akarnya. Dan kamu melihatnya seperti awan yang berjalan.

وَإِذَا العِشَارُ تَعَطَّلَتْ وَتَخَرَّبَتْ خَلَتِ الدِّيَارُ فَمَا بِهَا مَعْمُورُ

Ketika unta-unta bunting ditinggalkan dan bertumbangan. Rumah-rumah kosong tanpa ada satupun yang dihuni.

وَإِذَا الجَلِيلُ طَوَى السَّمَا بِيَمِينِهِ طَيَّ السِّجِلِّ كِتَابُهُ المَنْشُورُ

Ketika Sang Kuasa menggulung langit dengan tangan kanan-Nya. Seperti kertas yang digulung, dan Kitab-Nya ditebar.

وَإِذَا الصَّحَائِفُ نُشِّرَتْ فَتَطَايَرَتْ وَتَهَتَّكَتْ لِلمُؤْمِنِينَ سُتُورُ

Saat catatan-catatan amal ditebar dan beterbangan. Dan tabir-tabir diangkat dari orang-orang beriman.

وَإِذَا السَّمَاءُ تَكَشَّطَتْ عَنْ أَهْلِهَا وَرَأَيْتَ أَفْلاكَ السَّمَاءِ تَدُورُ

Saat langit terpecah belah dari penghuninya. Dan kamu melihat orbit-orbit langit berputar.

وَإِذَا الجَحِيمُ تَسَعَّرَتْ نِيرَانُهَا فَلَهَا عَلَى أَهْلِ الذُّنُوبِ زَفِيرُ

Saat neraka berkobar apinya. Ia punya hembusan yang tertuju pada para pelaku dosa.

وَإِذَا الجِنَانُ تَزَخْرَفَتْ وَتَطَيَّبَتْ لِفَتًى عَلَى طُولِ البَلاءِ صَبُورُ

Saat surga dihias dan menjadi harum semerbak. Untuk orang yang selalu sabar atas panjangnya bala.

وَإِذَا الجَنِينُ بِأُمِّهِ مُتَعَلِّقٌ يَخْشَى القِصَاصَ وَقَلْبُهُ مَذْعُورُ

Saat janin bergantung pada ibunya. Karena takut mendapat balasan dan hatinya ketakutan.

هَذَا بِلا ذَنْبٍ يَخَافُ لِهَوْلِهِ كَيْفَ المُصِرُّ عَلَى الذُّنُوبِ دُهُورُ؟!

Seperti itu keadaan manusia yang tanpa dosa karena takut kengerian Hari Kiamat. Lalu bagaimana dengan orang yang selalu melakukan dosa-dosa bertahun-tahun!

Penutup 

Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kehidupan sebagai tambahan bagi kita dalam segala kebaikan dan kematian sebagai perhentian bagi kita dari segala keburukan, mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, menjadikan amalan terbaik kita adalah penutupnya, hari terbaik kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya, dan ucapan terakhir kita di dunia adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasulullah.

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Sumber:

Sumber artikel PDF

🔍 Tata Cara Mengubur Ari Ari, Poster Wali Songo, Hukum Hutang Di Bank Menurut Islam, Berbohong Menurut Islam, Tata Cara Sholat Jamak Takhir

Visited 8 times, 6 visit(s) today


Post Views: 1

QRIS donasi Yufid

News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film